Showing posts with label Puisi Chairil Anwar. Show all posts
Showing posts with label Puisi Chairil Anwar. Show all posts

Tuesday, 17 September 2019

Puisi Chairil Anwar - Tuti Artic

Puisi Chairil Anwar - Tuti Artic

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
isteriku dalam latihan; kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,

Tuesday, 21 August 2018

TENTANG RINDU

PUISI CINTA PENDEK TENTANG RINDU

Waktu mengapa begitu lambat beradu
Sementara hati kian sendu
Datanglah di mimpiku
Dimana dunia tak mampu menolak
Kemegahan cinta kita yang terindukan

Kasih,
Entah bagaimana kulewati hening malam ini
Masih kuingat ketika kau katakan cinta
Masih kuingat saat kau memeluk tubuh rapuhku
Masih kuingat tiap genggam jarimu
Dan selalu kuingat

Meski jarak terpisah jauh dari dua dunia
Kita selalu bersama,
Dalam nyanyian cinta nan setia
Mengapakah ada rindu
Jika saat lama kita tak bertemu
Inikah bunga-bunga cinta
Yang tumbuh diatas taman cinta kita?
Kasih, aku rindu padamu.

Tuesday, 10 July 2018

Puisi Amir Hamzah - Doa

DOA

Oleh: Amir Hamzah

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik, setelah
menghalaukan panas payah terik.

Angin malam mengembus lemah, menyejuk badan, melambung rasa menayang
pikir, membawa angan ke bawah kursimu.

Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang memasang lilinnya.

Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyiarkan kelopak.
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahayamu,
biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu.

Sunday, 8 July 2018

Puisi Chairil Anwar ‘Yang Terampas dan Yang Putus’

Puisi Chairil Anwar ‘Yang Terampas dan Yang Putus’

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku
Menggigir juga ruang di mana dia yang ku ingin
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
Dan aku bis lagi lepaskan kisah baru padamu
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlaku beku

Puisi Chairil Anwar ‘Persetujuan Dengan Bung Karno’

Puisi Chairil Anwar ‘Persetujuan Dengan Bung Karno’

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Chairil Anwar

Ayo! Bung Karno kasih tangan, mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicara mu
Dipanggang di atas api mu
Digarami lautmu dari mulai tanggal 17 Agusutus 1945

Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api, Aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zat mu, di zat ku kapal-kapakl kita berlayar
Di urat mu, di urat ku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh

Puisi Chairil Anwar ‘Sebuah Kamar’

Puisi Chairil Anwar ‘Sebuah Kamar’

SEBUAH KAMAR

Chairil Anwar

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini pada dunia
Bulan yang menyinar ke dalam mau lebih banyak tahu
Sudah lima anak bernyawa di sini, Aku salah satu

Ibuku tertidur dalam tersedu
Keramaian penjara sepi selalu
Bapak ku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu

Sekeliling dunia bunuh diri
Aku minta adik lagi pada Ibu dan Bapak ku
Karena mereka berada di luar hitungan
Kamar begini 3 x 4 terlalu sempit buat meniup nyawa

Puisi Chairil Anwar ‘Rumahku’

Puisi Chairil Anwar ‘Rumahku’

RUMAHKU

Chairil Anwar

Rumah ku dari unggun timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Ku lari dari gedong lebar halaman



Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah ku dirikan ketika senja kala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumah ku dari unggun timbun sajak

Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi
Tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu