Tuesday, 17 September 2019

Puisi Anis Matta Keluarlah Saudaraku

Puisi Anis Matta Keluarlah Saudaraku

Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusu’an i’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah, keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluarlah-keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenaran
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari

Puisi Bung Karno SEJARAH YANG AKAN MEMBERSIHKAN NAMAKU

Puisi Bung Karno SEJARAH YANG AKAN MEMBERSIHKAN NAMAKU

Dengan setiap rambut ditubuhku
aku hanya memikirkan tanah air ku

Dan tidak ada gunanya bagiku
melepaskan beban dari dalam hatiku
kepada setiap pemuda yang datang kemari
aku telah mengorbankan untuk tanah ini

Tidak menjadi soal bagiku
apakah orang mencapku kalaburator
Aku tidak perlu membuktikan kepadanya
atau kepada dunia, apa yang kukerjakan

Halaman-halaman dari revolusi Indonesia
akan ku tulis dengan darah Soekarno
Sejarahlah yang akan membersihkan namaku

(dari buku "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat" hlm 304)

Puisi Bung Karno Aku Melihat Indonesia

Puisi Bung Karno Aku Melihat Indonesia

Jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep
Aku mendengar Lautan Hindia bergelora
membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia
Jikalau aku melihat
sawah-sawah yang menguning-menghijau
Aku tidak melihat lagi
batang-batang padi yang menguning menghijau
Aku melihat Indonesia
Jikalau aku melihat gunung-gunung
Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Merbabu
Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Kelebet
dan gunung-gunung yang lain

Aku melihat Indonesia
Jikalau aku mendengarkan
Lagu-lagu yang merdu dari Batak
bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan
Aku mendengarkan Indonesia
Jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran
bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan
Aku mendengar Indonesia
Jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku
bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio
Aku mendengar Indonesia
Jikalau aku mendengarkan burung Perkutut
menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi
bukan lagi aku mendengarkan burung Perkutut

Aku mendengarkan Indonesia
Jikalau aku menghirup udara ini
Aku tidak lagi menghirup udara
Aku menghirup Indonesia
Jikalau aku melihat wajah anak-anak
di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia

(dari buku “Bung Karno dan Pemuda”, hlm. 68-107)

Puisi Chairil Anwar - Tuti Artic

Puisi Chairil Anwar - Tuti Artic

Tuti Artic

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
isteriku dalam latihan; kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.
Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,

Monday, 16 September 2019

Puisi Neno Warisman Lengkap di Munajat 212


Puisi Munajat 212

Puisi munajat kuhantarkan kepadamu wahai berjuta-juta hati yang ada di sini. Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara bersambung terekam tergabung bagai kalung lentera semesta.

Sorot-sorot mata kalian bersinar, wahai saudara, mencabik-cabik keraguan, meluluhlantahkan kesombongan, karena mata-mata kalian nan jernih, mengabarkan pesan kemenangan yang dirindukan, Insya Allah, pasti datang.

Allahu Akbar

Kemenangan qalbu yang bersih, kemenangan akal sehat yang jernih, kemenangan gerakan-gerakan yang berkiprah tanpa pamrih, dari dada ini telah bulat tekad baja, kita adalah penolong-penolong agama Allah, jangan halangi, jangan sanggah, jangan politisasi, sebab ini adalah hati nurani, dari mulut-mulut kita telah terlantun shalawat, dzikir, dan doa bergulir, mengalir searah puturan bintang-bintang bertriliun banyaknya, tersatukan dalam munajat 212. Milyaran matahari itu saudaraku, merekatkan diri, menjadi gumpalan kabut cahaya raksasa di semesta, bukti kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla, begitulah kita saudaraku.

Harusnya kita saling merekat, wahai para pejuang fi sabilillah di jalannya, ayo munajat, ayo rekatkan umat, jadikan barisanmu kuat dan saling rekat, rekatkan indonesiamu, rekatkan jiwa-jiwamu, rekatkan langkah dan tindakanmu.

Ya Allah, berjuta tangan para pejuang agamamu ini, mengepalkan tinju mereka, berseru-seru mereka, menderu-deru mereka di setiap jengkal udara, hingga terlahir takbir kemenangan. Kemenangan di ujung lelah, menggema. Takbir bersahut-sahutan. Berjuta sajadah akan kita hamparkan sebentar lagi kawan, berjuta kepala, menangis bersujud, bersyukur, basah air mata dalam bahagia kemenangan, sebentar lagi tiba.

Allahumma inni a’udzubika min jahdil bala wa darqil syaqa, wa suil qada’, wa syamadatil a’da’, jauhkan kami dari bala musibah, yang tak dapat kami atasi, lindungi kami dari kegembiraan orang-orang yang membenci kami, rekatkan jiwa-jiwa patriot kami dalam keikhlasan, di nadi-nadi kami, di jantung-jantung kami, di pundak-pundak kami, di jari-jari kami yang telah memilih untuk hanya selalu berdua, kita dan Allah Azza wa Jalla, selalu berdua, kita dan Rasulullah kekasih semesta, selalu berdua, kita dan saudara mukmin saling menjaga, selalu berdua, kita dan pemimpin yang membela hak-hak umat seutuhnya.

Duhai Allah Rabb, jangan Kau jadikan hati kami bagai si penakut-penakut, pengecut, sebab kami terlahir di tanah para pahlawan yang berani yang rela mengorbankan jiwa raga, harta dan segalanya. Jangan jadikan hati kami lalai dan gentar, karena kami lahir dan besar dibimbing para ulama kami yang sabar, menetap jantung-jantung kami untuk menjadi pendekar yang berani berpihak pada yang benar.

Duhai Allah jangan Kau jadikan hatikan kami tertutup dari cahaya terang kebenaran-Mu, yang menyala di malam-malam munajat saat Engkau turun ke jagat dunia telah engkau bersaksikan kami tegak berdiri Ya Allah, kami meminta menangis, hingga basah sekujur diri kepada-Mu, seluruh harapan kami dambakan, akan Engkau tolong atau Engkau binasakan, akan Engkau menangkan atau Engkah lantakkan, itu hak-Mu.

Namun kami mohon, jangan serahkan kami kepada mereka, yang tidak memiliki kasih sayang kepada kami dan anak-cucu kami. Dan jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan kami khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu, ya Allah, izinkan kami, memiliki generasi yang dipimpin oleh pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik untuk negeri adil dan makmur terbaik, takdirkanlah bagi kami generasi yang dapat kami andalkan, untuk mengejar nubuah kedua, wujud dan nyata, dan lahirnya sejuta al-Fatih di bumi Indonesia.



Allah Rabb, puisi munajat ini kubaca bersama saudara-saudaraku, mujahid-mujahidah, yang datang berbondong-bondong dari segala arah, maka inilah puisi munajat, mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu, bersimpuh di belantaran keprihatinan atas ketidakadilan, atas kesewenag-wenangan, atas kebohongan demi kebohongan, atas ketakutan dan ancaman yang ditebar-tebarkan, atas kepongahan dalam kezaliman, yang dipamer-pamerkan dalam pertunjukan kekuasaan yang mengkerdilkan Tuhan, yang menantang kuasa Tuhan, yang tidak percaya bahwa Tuhan pembalas sempurna.

Ya Rabb, engkaulah yang memiliki kekuasaan mutlak di seluruh jagat ini.

Allah, ini puisi munajat yang mengetuk-ngetuk pintu langit-Mu, turunkanlah Malaikat berbaris-baris, dan burung-burung ababil, dan semut-semut pemadam api Ibrahim, munajat penuh harap menurunkan pertolongan yang dijanjikan bagi yang terdera, bagi pemimpin yang terfitnah, bagi ulama yang di penjara, bagi pejuang yang terus dihadang-hadang, bagi pembela keadilan yang di gelandang ke bilik-bilik persakitan.

“Shalawat Asyghil”

Untuk hari depan yang lebih baik, untuk kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, bersama-Mu dan bersama Rasul-Mu dalam ketinggian titah-Mu, kami bermunajat, keluarkan kami dari gelap, keluarkan kami dari gelap, keluarkan kami dari gelap, Amin, Allahumma Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Renungan "Hal yang membuatku malu pada diri sendiri 😔"


Assalamu'alaikum
PESAN INDAH

"Hal yang membuatku malu pada diri sendiri 😔"
Pernahkah kamu berpikir andai kita perlakukan Quran 📗 seperti halnya hape kita saat ini..?
Lihat...
Bagaimana kalau kita selalu membawanya kemanapun kita pergi??? dalam tas & saku?
Bagaimana jika kita selalu melihatnya dan membacanya beberapa kali dalam sehari�?
Betapa kita gugup dan terburu-buru balik pulang saat lupa membawanya?
Bagaimana jika kita mperlakukn Quran seolah kita tak bisa hidup tanpanya..?
- dan memang benar, kita tak bisa hidup tanpanya...!
Bagaimana jika kita berikan itu kepada anak2 kita sbgi hadiah?
Bagaimana jika kita selalu sempatkan untuk membacanya disaat bepergian?
Bagaimana jika kita buat dia sebagai prioritas?
Seperti contoh status berikut :
" Quran is my best friend 💖."
Mungkin hanya 7% yg akan menyebarkan pesan ini...😞
Jadilah salah satu dari mereka 👳dan sebarkan  kepada saudara2 muslim �lainnya.
Janganlah jadi bagian dari 93% yg enggan myebarkn pesan ini...
Coba pikirkan tentang Hari Pembalasan, sekalipun sekali saja
Kita sadar betul kalau hampir setiap hari �selalu membuka dan bertukar pesan, email dsb. dg teman2 �
Kita share/forward 😂 guyonan & gosip
Tapi,Berapa kali kita buka Quran� dan membaca firman Allah
Jika kamu bersama teman2mu atau keluargamu, bagikan pesan ini kepada mereka...!!
 Terbukti dalam Penelitian :
💠 Mdengarkn Quran mngurangi menyebarnya sel kanker. 🎃 ditubuh manusia bahkan menghancurkannya
💠 Memanjangkan sujud semakin menguatkan ingatan dan mencegah stroke
Setan 👹 berkata:
"Aku heran bagaimana bisa manusia mengatakan mereka cinta Allah tapi mengabaikan perintahNya, dan mengklaim benci padaku, �tapi nyatanya mereka patuh pada rayuanku! "
Hanya butuh waktu sebentar untuk menyebarkan pesan ini kepada orang2 tercinta sebagai pengingat..

Happy long week end with Qur'an 😊

Puisi Fahri Hamzah : KAN KUHAPUS AIR MATAMU

Puisi Fahri Hamzah : KAN KUHAPUS AIR MATAMU
Aku menulis puisi untukmu....
Karena kau datang, membawa berita duka dari dalam hatimu...
Tentang keputusasaan..
Dan ketidaksanggupan menghadapi kenyataan...
Kerapuhan, akibat perasaan dikhianati
Kau datang mengabarkan tragedi dan perasaan hampa ....
Bibirmu bergetar
Seperti tak sanggup melukis perasaan.
Mata memerah dan melelehkan gerimis frustrasi.... memar hatimu.
Luka yang tak sanggup kau bawa pergi.
Hatimu seperti berdarah.
Terasa, ada sakit yang melukis murung wajahmu yang tak pernah terjadi... tak pernah kau begini.
Dan kau meminta pendapatku...
Aku terdiam...
Aku memandang langit...
Aku menarik napas panjang...
Menoleh ke belakang..
Apa yang terjadi pada kita?
Mengapa kita begitu kecewa?
Apakah wajar sikapmu?
Aku pun tak mudah memahami apa yang kita alami....
Tapi aku berbisik pada diriku... aku bertanya dalam hati... tak ingin kuperdengarkan padamu..
Sesempit itukah dunia ini bagi kita?
Apakah kita tidak punya pilihan?
Apakah di balik semua ini tak ada maksud baik Ilahi?
Kau memaksaku berkata sebagai pelepas dahaga jiwamu yang dirundung duka...
Dan ku katakan padamu kawan.... Pandanglah langit... tariklah napas panjang...
Pulanglah dan temuilah belahan jiwamu... Peluklah kekasih hatimu... bawalah pulang sekuntum senyum...
Jadilah kau yang paling kuat...
Jadilah yang paling tegar..
Jangan tampakkan luka meski hatimu berdarah... jangan bersedih di depan manusia.. jangan menangis di depan hamba... tumpahlah di depan yang Maha Luas dan Kuasa...
Tanggunglah semua beban luka dan telanlah pahit yang paling getir... sebab sakit ini akan terus terasa jika kau tak sandarkan diri padaNya....
Dan apabila kau lemah, lalu siapa yang menanggung luka saudara-saudara kita?
Apakah telah berkata benar?
Kau masih marah?
Bolehkah kita marah?
Untuk apa?
Mengapa keadaan menentukan kita bahagia atau kecewa?
Mengapa perjuangan mengenal jera?
Mengapa kita terguncang? Mengapa kita lemah?
Aku tak mau....
Biarlah luka ini pertanda bahwa perjuangan itu harus selalu ada...
Waktu terus berlari...
Takkan terasa....
Dunia takkan mudah bagi yang lemah kawan.
Dunia akan selalu nyata...
Apa yang kita tanam, itu yang kita petik... suka atau tidak.. itu akan terjadi pada siapapun...
Maka apakah ada guna menyesal?
Apakah kita punya waktu untuk kecewa?
Persiapkan saja untuk esok..
Bila lebih banyak luka...
Hadapilah...
Bila luka tetap menganga..
Hadapilah...
Jangan lari jika dihadang..
Jangan takut menghadapi kenyataan!
Karena kau ingin dikenang sebagai apa?
Lukiskan itu sekarang....
Ini saat yang terang!
Twitter @Fahrihamzah 28/6/2019

Sunday, 15 September 2019

PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA, AINUN

PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA, AINUN

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, ...
dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ....

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ....

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, .. selama kau ada, ...
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini ...
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, ..
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ..
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...

Selamat jalan, ..
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, ...
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...
selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ...
selamat jalan, ...
calon bidadari surgaku ...

- HABIBIE -

Wednesday, 19 September 2018

SATU HATI DAN SATU CINTA

SATU HATI DAN SATU CINTA

Oleh RA. Irmayanti, Cirebon.

Aku cuma punya satu hati
Yaitu untukmu seorang
Tak ada yang lain
Begitupun dengan cinta
Cintaku hanya untukmu saat ini, esok dan selamanya.

Mencintaimu adalah anugerah untukku
Cintaku tulus apa adanya
Mengalir dari dalam hatiku sendiri
Mungkin orang lain bisa memberimu kebahagiaan lebih dariku
Tapi aku cuma punya satu
Cinta dan Kesetiaan yang akan kuberikan padamu.

Aku cuma punya satu hati
Yaitu untukmu seorang
Tak ada yang lain
Begitupun dengan cinta
Cintaku hanya untukmu saat ini, esok dan selamanya.

Mencintaimu adalah anugerah untukku
Cintaku tulus apa adanya
Mengalir dari dalam hatiku sendiri
Mungkin orang lain bisa memberimu kebahagiaan lebih dariku
Tapi aku cuma punya satu
Cinta dan Kesetiaan yang akan kuberikan padamu.

Aku cuma punya satu hati
Yaitu untukmu seorang
Tak ada yang lain
Begitupun dengan cinta
Cintaku hanya untukmu saat ini, esok dan selamanya.

Mencintaimu adalah anugerah untukku
Cintaku tulus apa adanya
Mengalir dari dalam hatiku sendiri
Mungkin orang lain bisa memberimu kebahagiaan lebih dariku
Tapi aku cuma punya satu
Cinta dan Kesetiaan yang akan kuberikan padamu.


Tuesday, 18 September 2018

KEKASIHKU

KEKASIHKU

Oleh Abdul Zaelani

Bahagiaku adalah senyummu
Harapanku adalah bersama denganmu
Masa depanku
Adalah mempersuntingmu

Namun jangan sekali kali kau membisu
Karena diammu, merampas bahagiaku
Tangismu, merusak ketenangan jiwaku

Ku mohon…
Tetaplah bersamaku
Karena cintamu
Akan kuperjuangkan selalu


Bahagiaku adalah senyummu
Harapanku adalah bersama denganmu
Masa depanku
Adalah mempersuntingmu

Namun jangan sekali kali kau membisu
Karena diammu, merampas bahagiaku
Tangismu, merusak ketenangan jiwaku

Ku mohon…
Tetaplah bersamaku
Karena cintamu
Akan kuperjuangkan selalu


Bahagiaku adalah senyummu
Harapanku adalah bersama denganmu
Masa depanku
Adalah mempersuntingmu

Namun jangan sekali kali kau membisu
Karena diammu, merampas bahagiaku
Tangismu, merusak ketenangan jiwaku

Ku mohon…
Tetaplah bersamaku
Karena cintamu
Akan kuperjuangkan selalu


TUHAN TAHU AKU MENCINTAIMU

TUHAN TAHU AKU MENCINTAIMU

Oleh Legiman Partowiryo

Engkau bukanlah hujan
tetapi engkau selalu menarik air hujan
menjadi mata air hujan di mataku

keberadaanmulah yang menjadi alasan
mengapa awan mendung muncul pagi ini, dan
memaksaku menumpahkan hujan
untuk kesekian kalinya, dari
kelopak yang sudah dengan susah payah kukeringkan.

Aku hanya tidak menyangka saja
bahwa aku yang telah berpaling
dari kecupmu yang membara dalam kata-kata,
masih sanggup merasakan adamu yang jauh
tetap mengimani cintaku.

Maka aku mohon kepadamu,
berbelas kasihlah kepada sepasang mata
yang mungkin sedang menatap puisi ini.

Atau kita bisa bersepakat,
melalu segala yang ada, bahwa
Tuhanpun tahu cintaku tidak musnah oleh waktu
hingga maut menjemputku dan
akan ku tunggu kau di lain waktu

Engkau bukanlah hujan
tetapi engkau selalu menarik air hujan
menjadi mata air hujan di mataku

keberadaanmulah yang menjadi alasan
mengapa awan mendung muncul pagi ini, dan
memaksaku menumpahkan hujan
untuk kesekian kalinya, dari
kelopak yang sudah dengan susah payah kukeringkan.

Aku hanya tidak menyangka saja
bahwa aku yang telah berpaling
dari kecupmu yang membara dalam kata-kata,
masih sanggup merasakan adamu yang jauh
tetap mengimani cintaku.

Maka aku mohon kepadamu,
berbelas kasihlah kepada sepasang mata
yang mungkin sedang menatap puisi ini.

Atau kita bisa bersepakat,
melalu segala yang ada, bahwa
Tuhanpun tahu cintaku tidak musnah oleh waktu
hingga maut menjemputku dan
akan ku tunggu kau di lain waktu


MUARA CANDA

MUARA CANDA

Inginku bergelut dengan candanya
Tawanya menyelinap disela-sela telinga
Hangat dirasa ketika bersama
Merekahkan senyum selebar jalan

Suasana hangat terasa disekujur tubuhku
Mati, mati jika ia pergi
Dengan tubuh mungil yang biasa mendekapku
Kehangatan yang hilang

Jika ia tak melebarkan senyum
Teruslah disampingku
Mendekapku dengan senyuman manismu

Inginku bergelut dengan candanya
Tawanya menyelinap disela-sela telinga
Hangat dirasa ketika bersama
Merekahkan senyum selebar jalan

Suasana hangat terasa disekujur tubuhku
Mati, mati jika ia pergi
Dengan tubuh mungil yang biasa mendekapku
Kehangatan yang hilang

Jika ia tak melebarkan senyum
Teruslah disampingku
Mendekapku dengan senyuman manismu


Inginku bergelut dengan candanya
Tawanya menyelinap disela-sela telinga
Hangat dirasa ketika bersama
Merekahkan senyum selebar jalan

Suasana hangat terasa disekujur tubuhku
Mati, mati jika ia pergi
Dengan tubuh mungil yang biasa mendekapku
Kehangatan yang hilang

Jika ia tak melebarkan senyum
Teruslah disampingku
Mendekapku dengan senyuman manismu


Monday, 17 September 2018

CINTA ABADI

CINTA ABADI

Oleh AW Effendi

Pagi ini sedikit rintik oleh mendungnya hati
Kuracik kopi dan rindu hingga menusuk sanubari
Pandang kosong tersesat oleh kata hingga makna
Engkau kah akhir kutujukan jiwa
Ataukah berakhir pilu di simpang asa

Kopi pagi ini tak semanis kemarin pagi
Oleh rasa yang kian lelap termakan masa
Ku coba ulangi racikan kopi dan cinta
Tuk sempurnakan tanya
Adakah benar kau mencintaiku sahaja

Semakin ku racik kopi dan rindu
Haruskah kutiadakan keduanya itu?
Oleh kopi yang hilang pahitnya?
Atau oleh rindu yang hilang laranya

Kuseduh kopi pagi ini
Kuracik dengan sebuah mimpi
Agar dapat kuseruput rindu darimu
Agar cinta ini abadi teruntukmu


Pagi ini sedikit rintik oleh mendungnya hati
Kuracik kopi dan rindu hingga menusuk sanubari
Pandang kosong tersesat oleh kata hingga makna
Engkau kah akhir kutujukan jiwa
Ataukah berakhir pilu di simpang asa

Kopi pagi ini tak semanis kemarin pagi
Oleh rasa yang kian lelap termakan masa
Ku coba ulangi racikan kopi dan cinta
Tuk sempurnakan tanya
Adakah benar kau mencintaiku sahaja

Semakin ku racik kopi dan rindu
Haruskah kutiadakan keduanya itu?
Oleh kopi yang hilang pahitnya?
Atau oleh rindu yang hilang laranya

Kuseduh kopi pagi ini
Kuracik dengan sebuah mimpi
Agar dapat kuseruput rindu darimu
Agar cinta ini abadi teruntukmu


Pagi ini sedikit rintik oleh mendungnya hati
Kuracik kopi dan rindu hingga menusuk sanubari
Pandang kosong tersesat oleh kata hingga makna
Engkau kah akhir kutujukan jiwa
Ataukah berakhir pilu di simpang asa

Kopi pagi ini tak semanis kemarin pagi
Oleh rasa yang kian lelap termakan masa
Ku coba ulangi racikan kopi dan cinta
Tuk sempurnakan tanya
Adakah benar kau mencintaiku sahaja

Semakin ku racik kopi dan rindu
Haruskah kutiadakan keduanya itu?
Oleh kopi yang hilang pahitnya?
Atau oleh rindu yang hilang laranya

Kuseduh kopi pagi ini
Kuracik dengan sebuah mimpi
Agar dapat kuseruput rindu darimu
Agar cinta ini abadi teruntukmu


AKU INGIN ENGKAU TERSENYUM KEMBALI

AKU INGIN ENGKAU TERSENYUM KEMBALI

Oleh Msa

Engkau datang menjemputku
Dan aku berlari bergegas menemuimu
Lalu kita pergi ke suatu tempat hiburan
Dan engkau mengeluapkan segala perasaan dengan nyanyian

Alunan musikpun begitu keras terdengar
Sampai sampai diri ini tak berhenti mendengar
Tak ingin ku menghentika alunan musik itu
Karena ku tak ingin berhenti mendengar alunan merdu suaramu

Aku ingin engkau tersenyum kembali
Disaat kau dan aku berjumpa pertama kali
Aku ingin selalu disampingmu
Biar engkau tahu akulah pengobat segala laramu

Wahai kasih janganlah kau bersedih
Karena setiap tetesan air matamu
Adalah rintihan kalbuku

Engkau datang menjemputku
Dan aku berlari bergegas menemuimu
Lalu kita pergi ke suatu tempat hiburan
Dan engkau mengeluapkan segala perasaan dengan nyanyian

Alunan musikpun begitu keras terdengar
Sampai sampai diri ini tak berhenti mendengar
Tak ingin ku menghentika alunan musik itu
Karena ku tak ingin berhenti mendengar alunan merdu suaramu

Aku ingin engkau tersenyum kembali
Disaat kau dan aku berjumpa pertama kali
Aku ingin selalu disampingmu
Biar engkau tahu akulah pengobat segala laramu

Wahai kasih janganlah kau bersedih
Karena setiap tetesan air matamu
Adalah rintihan kalbuku


KENANGANMU

KENANGANMU

Dini hari semakin dekat
Petang masih lekat
Legam rindu masih kugenggam
Kenangan tentangmu di kepala berkelebat
Makin beragam

Dirimu yang terbayang tak kunjung hilang
Membunuh bersama bayang-bayang yang tak pernah lekang
Tak jua hadir dalam untai-untai angin malam
Yang tak kunjung hadir dalam kenyataan

Aku masih mencoba meramu malam
Tanpa meracaukan kamu, sayang
Rindu tahu jalan kan?
Pulanglah kepadaku
Aku akan menyambutmu dengan seluruh ragaku.

Dini hari semakin dekat
Petang masih lekat
Legam rindu masih kugenggam
Kenangan tentangmu di kepala berkelebat
Makin beragam

Dirimu yang terbayang tak kunjung hilang
Membunuh bersama bayang-bayang yang tak pernah lekang
Tak jua hadir dalam untai-untai angin malam
Yang tak kunjung hadir dalam kenyataan

Aku masih mencoba meramu malam
Tanpa meracaukan kamu, sayang
Rindu tahu jalan kan?
Pulanglah kepadaku
Aku akan menyambutmu dengan seluruh ragaku.


HATI YANG RETAK

HATI YANG RETAK

Yang kuterima duka menengadah
Kelopak sayunya nanar terpana
Petang diikat malang di perbatasannya
Topan liar santap hingar
Sejak pagi ditemuinya

Dalam hati gersang terbangun karang
Membantu tandingi dera ombak tak terhingga
Namun rapuh ia telan patah segala
Buah hati taman cinta
Jadi ular berbisa mematuk dalam petang luka

Wahai Tuhan semesta alam
Aku orang kalah
Berilah pelampung
Tambal lah hati retak
Kumpulkan barangku
Yang terpisah dan terselimuti

Kelopak sayunya memancar bening kemala
Lalu ia bernyanyi…

Kereta biru beku, sambutlah aku
Dalam ketiadaan atas ketidakberdayaan
Langkahmu menggapai gelap tak kenal batas

Dalam hati gersang terbangun karang
Membantu tandingi dera ombak tak terhingga
Namun rapuh ia telan patah segala
Buah hati taman cinta
Jadi ular berbisa mematuk dalam petang luka

Wahai Tuhan semesta alam
Aku orang kalah
Berilah pelampung
Tambal lah hati retak
Kumpulkan barangku
Yang terpisah dan terselimuti

Kelopak sayunya memancar bening kemala
Lalu ia bernyanyi…

Kereta biru beku, sambutlah aku
Dalam ketiadaan atas ketidakberdayaan
Langkahmu menggapai gelap tak kenal batas

KESETIAAN

KESETIAAN

Jangan ragukan cinta yang mencintaimu
Menjaga hatimu untuk tetap menjadi tujuan hidupku
Adalah mimpi yang terus kujaga
Hingga waktu tak mampu menghitung dirinya sendiri


Jangan ragukan cinta yang mencintaimu
Menjaga hatimu untuk tetap menjadi tujuan hidupku
Adalah mimpi yang terus kujaga
Hingga waktu tak mampu menghitung dirinya sendiri



Jangan ragukan cinta yang mencintaimu
Menjaga hatimu untuk tetap menjadi tujuan hidupku
Adalah mimpi yang terus kujaga
Hingga waktu tak mampu menghitung dirinya sendiri



Jangan ragukan cinta yang mencintaimu
Menjaga hatimu untuk tetap menjadi tujuan hidupku
Adalah mimpi yang terus kujaga
Hingga waktu tak mampu menghitung dirinya sendiri


CERMIN CINTA

CERMIN CINTA

Kini ku coba membukakan mata dan tersadar,
Bahwa aku masihlah seseorang yang kau cinta,
Yang tak seorang pun tahu alasannya,
Tak ubahnya aku pun bahagia dan bangga karena mu.

Dengan mata, coba kutangkap bayang ku pada cermin kamar ku,
Ku lihat perutku membuncit penuh keceriaan dan punggung ku,
Tertancap panah asmaramu…
Kepalaku tertunduk berat terbebani mahkota cinta mu,

Hingga akhirnya ku tegakkan kepalaku dan ah…
Cepat ku telan senyum manis ku yang sejak tadi menghiasi bibirku.
Krakkkk!! Seketika cermin ku pecah, menyadari betapa tidak tampannya aku.


Kini ku coba membukakan mata dan tersadar,
Bahwa aku masihlah seseorang yang kau cinta,
Yang tak seorang pun tahu alasannya,
Tak ubahnya aku pun bahagia dan bangga karena mu.

Dengan mata, coba kutangkap bayang ku pada cermin kamar ku,
Ku lihat perutku membuncit penuh keceriaan dan punggung ku,
Tertancap panah asmaramu…
Kepalaku tertunduk berat terbebani mahkota cinta mu,

Hingga akhirnya ku tegakkan kepalaku dan ah…
Cepat ku telan senyum manis ku yang sejak tadi menghiasi bibirku.
Krakkkk!! Seketika cermin ku pecah, menyadari betapa tidak tampannya aku.


Kini ku coba membukakan mata dan tersadar,
Bahwa aku masihlah seseorang yang kau cinta,
Yang tak seorang pun tahu alasannya,
Tak ubahnya aku pun bahagia dan bangga karena mu.

Dengan mata, coba kutangkap bayang ku pada cermin kamar ku,
Ku lihat perutku membuncit penuh keceriaan dan punggung ku,
Tertancap panah asmaramu…
Kepalaku tertunduk berat terbebani mahkota cinta mu,

Hingga akhirnya ku tegakkan kepalaku dan ah…
Cepat ku telan senyum manis ku yang sejak tadi menghiasi bibirku.
Krakkkk!! Seketika cermin ku pecah, menyadari betapa tidak tampannya aku.


AKU, KAU, DAN CINTAKU PADAMU

AKU, KAU, DAN CINTAKU PADAMU

Oleh Legiman Partowiryo

aku tidak tahu pasti
kapan cinta itu hadir,
seperti setiap orang yang bertanya;
kapan detik pertama kehidupan dimulai?

aku hanya tahu satu hal yang pasti
bahwa aku semestinya mampu
membangun bahtera dan mempercayakan
satu dayung padamu,
dan akan kita laju
tiap detik waktu
yang akan kita lukis
dengan warna rindu.



aku tidak tahu pasti
kapan cinta itu hadir,
seperti setiap orang yang bertanya;
kapan detik pertama kehidupan dimulai?

aku hanya tahu satu hal yang pasti
bahwa aku semestinya mampu
membangun bahtera dan mempercayakan
satu dayung padamu,
dan akan kita laju
tiap detik waktu
yang akan kita lukis
dengan warna rindu.


aku tidak tahu pasti
kapan cinta itu hadir,
seperti setiap orang yang bertanya;
kapan detik pertama kehidupan dimulai?

aku hanya tahu satu hal yang pasti
bahwa aku semestinya mampu
membangun bahtera dan mempercayakan
satu dayung padamu,
dan akan kita laju
tiap detik waktu
yang akan kita lukis
dengan warna rindu.

SIRNA

SIRNA

Kini kutahu segalanya
Segalanya telah usai
Kini kumengerti semuanya
Semuanya telah berakhir

Sirna dalam sekejap
Tanpa seucap kata
Sesuatu yang baru
Tanpa sebuah ragu

Dan kinilah waktunya
Untukmu meniti langkah
Dalam lembaran baru
Karena…
Inilah yang tak mungkin untukku…


Kini kutahu segalanya
Segalanya telah usai
Kini kumengerti semuanya
Semuanya telah berakhir

Sirna dalam sekejap
Tanpa seucap kata
Sesuatu yang baru
Tanpa sebuah ragu

Dan kinilah waktunya
Untukmu meniti langkah
Dalam lembaran baru
Karena…
Inilah yang tak mungkin untukku…


Kini kutahu segalanya
Segalanya telah usai
Kini kumengerti semuanya
Semuanya telah berakhir

Sirna dalam sekejap
Tanpa seucap kata
Sesuatu yang baru
Tanpa sebuah ragu

Dan kinilah waktunya
Untukmu meniti langkah
Dalam lembaran baru
Karena…
Inilah yang tak mungkin untukku…